Ingatan dari Tuhan..
TUHAN BERI PERINGATAN, MANUSIA MASIH BELUM SADAR....
Saya terlebih dahulu mengucapkan takziah dan rasa simpati yang amat dalam kepada seluruh korban yang meninggal dan menderita akibat Tsunami kedua ini. Saya doakan kematian itu adalah husnulkhatimah bagi yang muslim. Kepada yang masih hidup moga-moga mendapat ketenangan di dalam ujian Tuhan. Sebenarnya Tuhan bermaksud baik dengan Tsunami yang ditaqdirkan-Nya itu. Sekiranya kata-kata ini dan ulasan saya menyakitkan hati pembaca, saya mohon ampun dan maaf. Kebenaran itu sekalipun pahit wajib diperkatakan.
26 Desember 2004 adalah ketibaan Tsunami I di mana seluruh dunia terkejut dengan Tsunami yang mempamerkan diri yang maha dahsyatnya, amat mengerikan dan cukup menakutkan. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang Asia oleh sentuhan 10 menitnya! Tiba-tiba saja marah, meledak, menyerang, mengamuk, menggelepur hingga memusnahkan harta benda, mencacatkan manusia dan Tsunami, sebuah universitas baru muncul yang sangat mengajarkan manusia agar takut dengan Tuhan. Perasaan takut dengan Tuhan sebenarnya adalah ‘degree’ yang sangat diperlukan setiap insan. Mengapa?
Sebab logiknya begini. Seorang hamba di istana raja yang paling beruntung ialah hamba yang paling takutkan dan cintakan rajanya. Betul tidak? Dan sesungguhnya seorang hamba Tuhan yang menumpang di bumi-Nya yang paling akan berbahagia ialah yang paling takutkan Tuhan. Selain karena ia akan berjaya mematuhi segala undang-undang bilamana ia begitu berhati-hati dan takut yang menyebabkan Tuhan paling sayangkannya adalah karena ia merujuk kepada kata-kata Tuhan itu sendiri.
Kenapa Tuhan datangkan Tsunami kedua pula? Kita bertanya langsung dengan Tuan yang empunyanya, mengapa Tsunami II dilepaskan, Tuhan pun menjawab, alam kalau mau menguburkan sesuatu kaum dan bangsa akan memulakannya dengan menggoncang kuasa politiknya, menjatuhkan ekonominya lalu akhirnya didatangkanlah bencana besar yang mampu menjungkitbalikkan penduduknya, maka hancurlah mereka.
Firman Allah SWT:
Maksudnya: “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (Al Qashash: 59)
Dari Tsunami I, kita patut berterima kasih karena mengajarkan kita arti hidup. Kita seharusnya sudah berasa insaf dengan didikan Tsunami I. Kita seharusnya sudah mengubah kehidupan kita kepada satu hala tuju yang benar-benar menjadi destinasi hidup. Penangan Tsunami pertama sekalipun cuma 10 menit, cukup untuk membuatkan manusia mampu berkata:
“Tuhanku, kalau beginilah sudahnya, aku tiada pilihan melainkan menjadikan hidup semata-mata untuk mencari keredhaan-Mu dan keampunan-Mu. Aku sangat takut dengan kemurkaan-Mu yang tidak mampu dihalang walau oleh sebuah kuasa dunia. Aku takut dengan Neraka-Mu. Ya Allah, selamatkan aku!”
Tapi wahai Tsunami Tuhan, ramai manusia yang tidak suka denganmu. Mereka marah-marah dengan berbagai kata nista melalui belragai bahasa, gaya dan iramanya. Kritikan dan kebencian padamu terasa sekali dan begitu jelas di dada-dada media. Mereka menilaimu jahat dan tak berguna sama sekali. Namun ketahuilah dan percayalah bahwa ramai yang akur padamu.
Wahai Tuhan, tuan punya Tsunami II; izinkanlah saya menilai Tsunami-Mu begini:
Tsunami II juga tidak bersalah sedikit pun. Masa kan Tuhan bersalah? Sesungguhnya Tuhan Maha Adil, Sangat Pengasih Penyayang, Maha Lemah Lembut dan Sopan Santun sekali. Tuhan lahirkan setiap hamba-Nya ke bumi dengan nama-Nya yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Cuma si hamba tidak perasan agaknya bahwa dia tercipta dari sebuah kasih sayang yang teramat besar dari Penciptanya. Kalaulah manusia tahu perihal cinta Tuhan ini, tentunya dia tidak sanggup melupakan Tuhannya itu setiap saat nafasnya. Oksigen yang dihirup setiap saat itu adalah kiriman kasih sayang dari Zat Tuhan kepada hamba-Nya. Sepatutnya hidupnya akan dihabiskan untuk Tuhannya itulah semata-mata. Tapi sayang manusia mensia-siakan cinta itu dan marah bila Tuhan menarik cintanya.
Sayang manusia tidak diajarkan itu semuanya, bahkan dia hidup pun dalam keadaan tidak tahu di manakah Tuhan itu hendak diletakkan dalam hidupnya. Jadilah Tuhan itu kadang-kadang ada, kadang-kadang tiada, kadang-kadang perlu, kadang-kadang tidak perlu bahkan kadang-kadang percaya, kadang-kadang tidak percaya. Boleh saja manusia mengkritik Tuhan dan dikatakanlah Tuhan itu sesuka hatinya.
Wahai Tuhan kepada Tsunami II,
Maka demi tanggungjawab dan demi kasih sayang-Mu, Engkau sudah memberi peringatanMu kepada mereka dengan Tsunami I, baru dua tahun lalu tetapi mereka masih tidak takut pada-Mu. Kau perkenalkan diri-Mu dengan Tsunami I tetapi mereka macam biasa-biasa saja. Maka untuk itu, dibuat kejutan lagi agar manusia sadar dan kembali kepada-Mu. Adillah sungguh perbuatan tunjuk kuasa oleh-Mu Tuhan kepada makhluk yang sudah tidak kenal kasih sayang-Mu karena hidup yang tidak kenal diri dan tidak kenal Tuhan itu lebih bahaya dari kematian yang bergelimpangan.
Kalau manusialah ada orang yang sudah diberi surat amaran tetapi masih lagi tidak membuat apa-apa perubahan, maka sudah tentu diberhentikan kerja serta-merta. Peringatan 24 jam buang kerja. Tapi Tuhan Maha Sabar tunggu dia beri peringatan lagi dua tahun baru bertindak. Sebab Tuhan sifat-Nya tidak tercabar.
Sesungguhnya Tuhan tidak bersalah dengan Tsunami I dan II dan sesiapa pun tidak patut dipersalahkan. Kuasa Tuhan itu bila Dia hendak jadikan sesuatu janganlah dikesalkan karena tidak ada siapa pun mampu menghalangnya. Tujuannya bukan untuk menganiaya, cuma untuk membuatkan kita manusia sadar bahwa kita yang menzalimi diri sendiri.
Sebagai contoh, Tuhan hendak takdirkan hujan berlaku tanpa dapat dikesan oleh pusat ramalan hujan. Maka Tuhan lakukanlah kejadian-kejadian kepada manusia-manusia di pusat kaji cuaca itu yang membuatkan mereka tidak mampu mengesan hujan yang akan turun itu. Di hari lain Tuhan hendak takdirkan pula hujan turun dan dapat dikesan oleh manusia. Maka berlakulah dengan izin Tuhan, pusat ramalan boleh mengesan hujan yang akan turun.
Artinya turunnya hujan dan dapat mengesan atau tidak dapat mengesan itu semuanya berlaku dengan kuasa Tuhan. Janganlah hendaknya orang Islam beriktikad bahwa kejadian Tsunami itu kerja Tuhan, tapi manusia tidak boleh mengesan lebih dahulu itu bukan kerja Tuhan. Seolah-olahnya dia berfikir manusia ada kuasa untuk menentang kuasa Tuhan karena kuasa manusia itu bebas dari kuasa Tuhan. Dengan kata lain kalaulah manusia tidak tersilap pada hari itu nescaya kerusakan oleh Tsunami I dan II tidak begitu besar. Iktikad itu salah sekali. Berbagai-bagai usaha dibuat manusia untuk mengesan agar bencana Tsumani II dapat dikesan lebih awal untuk mengelakkan kehilangan nyawa manusia namun kita perlu ingat bahwa usaha-usaha yang Tuhan perintahkan itupun adalah tertakluk pada kuasa dan keizinan Tuhan. Takkan pula kita berfikir bahawa kuasa untuk berusaha yang ada pada manusia itu di luar kuasa Tuhan. Waliyazubillah.
Tsunami adalah hadiah terbaik untuk zaman ini. Hadiah yang cukup tinggi nilai-nilai kebaikan, yang cukup menguntungkan sekiranya pandai dimanfaatkan.
Kematian dan bencana yang begitu banyak dan besar adalah patut. Sebab setiap yang hidup perlu mati. Cara mati adalah sesuatu yang tidak boleh dirancang. Sebagai hamba, kita hanya kena setuju dengan keputusan Tuhan untuk mematikan kita bila dan bagaimana. Kalau takdirnya nanti kita mati dalam laut dan tidak boleh dijumpai, siapa pun tidak boleh persalahkan sesiapa. Mahkamah pun tidak boleh digunakan. Nanti bila dunia dikiamatkan, lagilah tiada siapa boleh uruskan mayat siapa-siapa. Semuanya keputusan muktamad Tuhan yang tidak boleh tidak. Moga-moga manusia faham tentang Tuhan ini. Moga-moga manusia boleh berfikir begini:
“Rupanya Tuhan itu sangat sabarnya sehingga 40 tahun sekali baru dihukum hamba-hamba-Nya yang tidak kisah dengan-Nya. Sedangkan kekasih-kekasih-Nya, para Nabi dan para Rasul selalu kena ujian yang teruk. Jadi kalau aku tidak boleh terimalah hukuman yang satu ini, jahat sungguhlah aku ini dan jauhlah dari menjadi kekasih Tuhan. Tentu marah lagilah Tuhan dengan aku dan manusia-manusia seperti aku ini.”
_Sheikh Imam Ashaari Muhammad AtTamimi_

Commentaires